Sabtu, 03 Maret 2012

Untukmu Alexa-ku


Cinta itu benar-benar menyakitkan, kadang cinta itu selalu bertolak belakang dengan apa yang kita harapkan. Meskipun orang yang kita cintai serasa dekat dengan kita tapi begitu sulitnya untuk kita dapat menjangkau cinta yang jelas-jelas sudah ada di depan kita.

“Alexa !” panggilku dengan nada sangat merindukannya.
“Marco, hallo .. kangen banget ama kamu hehehe liburan lama banget sih.” Sahut  Alexa dengan nada yang gembira tentunya.
Itulah yang kusukai darinya ketika senyuman Alexa terpancar dari wajahnya yang manis itu.

“Lexa, kamu ngapain di sini, aku cari-cari kamu dari tadi eh ternyata di sini ama Marco. Eh, Hei Marco gimana kabarmu ?”
“Hei, Vin baik-baik aja, kamu sendiri gimana ?” huh Alvin laki-laki yang menurutku sempurna. Ya, dia memiliki apapun yang dia miliki, bagiku dialah orang yang paling beruntung karena selain aku dia pun juga teman dekat Alexa.

“Aku jelas baik banget lah Co, gimana engga coba, selama ad Alexa jelas aku bakal selalu baik-baik aja .” Jelas Marco, aku bener2 engga ngerti sama yang Alvin katain barusan, apa maksud dia ngomong gitu di depan Alexa secara langsung ?
“Eh maksudmu apaan ?” tanyaku dengan nada yang jelas sangat penasaran.
“Lo, iyalah kalau aku ketemu Alexa jelas hariku ngga akan..” Belum selesai Alvin berbicara tiba-tiba Alexa memotong. “Iya, emm Alvin please jangan mulai.”Sahut Alexa dengan nada yang sinis.

Istirahat, ya itulah saat yang paling aku tunggu-tunggu. “Marco, hey, aku cari kamu kemana-mana ternyata disini, temenin aku dong, lgi pengen curhat nii.”Pinta Alexa dengan nada yang sedikit manja padaku, ya itulah Alexa, selalu manja kalau ada mau.nya sama aku. Alexa mulai bercerita cerita dan ada satu hal yang membuatku terkejut. “Ya ampun Marco, aku rasa aku mulai jatuh cinta deh ama Alvin.”
Oh God, engga tau kenapa tiba-tiba hatiku serasa hancur banget pas denger apa yang Alexa bilang gitu. Alexa apa kamu engga sadar selama ini aku juga sayang sama kamu tapi kenapa kamu malah jadi jatuh cinta sama dia, Alexa kenapa ? tanyaku dalam hati. Entahlah, tiba2 air mata menetes dari pipiku, dan dengan cepat aku beranjak dari tempatku duduk bersama Alexa, lalu meninggalkan Alexa tanpa berkata apapun.

Sore hari, Hpku berdering ternyata sms dari Alexa. Ya dia selalu tak pernah berhenti mengirim sms ke hpku, aku rasa hatiku sedikit terhibur karna sms lucu2 darinya ini, Alexa memang juga sempat bertanya mengapa tadi aku langsung pergi meninggalkannya tetapi aku langsung berusaha mengalihkan perhatian ke topik lain agar Alexa tidak curiga. “Setel lagu aja deh sambil buat –buat puisi siapa tau, bisa masuk mading akhir tahun ini  ketimbang nanggur sambil nangis gini.”ucapku pada diri sendiri.
Grenade atau apalah ahh lagu ini tambah buat aku kangen banget sama Alexa. Andai Alexa tau tentang perasaan aku selama 2 tahun ini ke dia dan aku sangat berharap Alexa bisa membaca puisi yang aku buat untukknya ini, meski aku rasa Alexa pasti akan tetap tidak peduli tetap kucantumkan To:Alexa, berharap agar dia dapat membacanya mungkin suatu saat nanti..

Keesokan harinya aku benar-benar tidak sanggup pergi ke sekolah, bangun dari tidur tadi kepala sudah terasa pusing, badan ku pun serasa lemas sekali , aku rasa ini juga efek karena kemarin sudah seharian aku tidak makan. Ya inilah akibatnya karena aku terlalu mementingkan Alexa ketimbang kesehatan badanku. Aku hanya bisa meletakkan kepala ku di meja kaca di sekolahku ini. Aku hanya berharap Alexa ada d sampingku d saat seperti ini, tapi itu hanya harapanku saja.
“Hai Marco !” Alexa datang, ia menyapa ku dengan wajah yang tampak sangat senang, tetapi sesaat setelah itu dia mulai tampak khawatir setelah melihat keadaanku sekarang ini. “Marco kenapa kamu ? engga biasa2nya kamu gini. Astaga Marco mukamu pucet banget, kamu engga makan seharian ya kemaren ? Aduh Marco kamu tuh kenapa sih. Ayo, cepet ke UKS aku anterin kamu sekarang !”
Ternyata itu bukan hanya harapanku. Alexa mengkhwatirkan keadaanku.
“Iya Alexa.” Jawabku lemas. Saat aku mencoba berdiri dari kursi ku, Alexa menggenggam tanganku erat, setelah itu tiba-tiba semuanya menjadi gelap entah apa yang terjadi.

Saatku buka mataku aku sudah berada di UKS bersama seorang yang duduk di samping ranjangku dan menggenggam tanganku. Ya, Alexa yang duduk dan menggenggam tanganku, bersama dengan air mata yang terlihat menetes di pipinya.
“Marco, kamu kenapa kemaren engga makan seharian ? apa gara-gara aku Marco, maaf Marco aku baru mengerti sekarang.” Alexa berbicara dengan nada halusnya yang selalu bisa membuat hatiku terasa sangat tenang.
“Mengerti apa Alexa ?” tanyaku dengan lemas.
“ Aku baru mengerti kenapa kamu jadi kayak gini Marco, Aku sama sekali engga tau kalau selama ini kamu..” Alexa diam dan tidak melanjutkan pembiacaraanya tapi aku rasa aku tau apa yang Ia ingin bicarakan padaku. Tentang perasaanku padanya.. Tapi bagaimana Ia tau soal perasaanku ?
“Marco, aku liat semua puisi-puisi mu buatku.. dan aku minta maaf Marco aku nggak sengaja liat puisimu pas tadi nolongin kamu tas kamu juga ikutan jatuh dan puisimu ya juga jatuh di lantai dan Marco aku sama sekali engga bermaksud untuk nyakitin hatimu.”
“Alexa, apapun demi kebahagiaanmu aku rela.” Senyum pahit jelas terpancar dari wajahku, dan aku yakin Alexa pun menyadari bahwa aku merasakan sakit yang luar biasa dalam hatiku.
Pintu kamar UKS terbuka, dan sudah kuduga itu pasti Alvin. Secara kilat aku melepaskan genggaman Alexa, Alexa pun segera menghapus air matanya dan mencoba tersenyum di depan Alvin.
“Ya ampun Alexa aku cari kemana-mana ternyata kamu disini sama si Marco, eh Ko napa kamu? Gara” gak makan sehari aja udah pingsan dasar kamu Ko !” Entah sebuah ejekan sindiran atau apa yang Alvin ucapkan barusan yang jelas kepala ku masih terasa pusing dan badanku masih lemas, tetapi berbeda dengan Alexa dia langsung beranjak dari kursinya dan melayangkan tamparan pada pipi Alvin, entah apa yang terlintas di pikiran Alexa saat itu, apa dia tidak sadar bahwa yang telah ia tampar barusan adalah orang yang ia cintai. Aku benar-benar kaget.“Alexa apa-apaan kamu ini, kenapa tiba –tiba kamu tampar aku ?!”. triak Alvin sekuat tenanganya, Alvin terlihat jengkel terhadap kelakuan Alexa yang mendadak berubah itu. “Eh denger ya ALVIN CRISTIAN ! kamu ini nggak sadar apa, temenmu lagi sakit gini, bukannya hibur dia atau apa kamu malah nyindir dia dengan muka innocentmu itu !”
Alexa menjawab semua perkataan Alvin dengan kasar, dan sangat kasar, bukankah seharusnya yang marah itu aku kenapa malah jadi Alexa yang marah ?
Alvin merasa tidak terima karena di bentak seorang perempuan terutama seperti Alexa, dengan cepat Alvin pun membalas tamparan Alexa dan aku yakin tamparan Alvin 200x lipat lebih keras daripada tamparan Alexa tadi. Aku pun segera berdiri dari kasur UKS, dan selanjutnya perkelahian hebat pun terjadi di UKS. Tanpa sadar tiba-tiba kepalaku menjadi sangat pusing dan mulai terjatuh lagi, seingat ku Alexa berteriak histeris dan mulai berkata-kata tidak jelas pada Alvin ..

Keesokan harinya badanku terasa lebih enak ya mungkin karena semalam aku benar-benar tidur dengan pulas. Semalam pun aku sempat berpikir dan mulai berkomitmen untuk menjauhi Alexa karena aku pikir keputusanku ini baik bagi Alexa karena Alexa memang benar-benar mencintai Alvin. Meskipun aku sedikit ragu akan keputusan ku ini, karena aku sempat dilanda kebingungan sejak  kejadian di UKS kemarin, tapi aku yakin kemarin Alexa hanya mencoba membela ku sebagai sahabat nya saja dan sama sekali nggak lebih dari itu..

2 jam, 3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam ya ! KRING !!! bel pulang sekolah pun berbunyi, Aku mulai mencari sosok Alexa tapi entah kemana Alexa aku pun tidak dapat menemukannya. Aku mencarinya untuk membicarakan teantang keputusanku itu. Setelah beberapa menit ku cari ya kutemukan Alexa dia sedang berada di kursi taman duduk sendiri, dan yang ku tau dia menangis ..
Aku menghampirinya, Alexa segera mengusap air matanya dan tersenyum pahit di hadapanku, sebenarnya Aku sangat dengan benci senyum pahit Alexa !
Setelah keheningan melanda, Alexa mulai kembali menangis, perlahan ia menyandarkan kepalanya di pundakku.
“Marco, aku bener-bener nyesel soal Alvin kemarin yang memukulmu..” tutur Alexa lembut terhadapku
“kenapa kamu yang nangis Lexa ? Aku ngga apa apa Lexa, jangan nangis lagi.” Jawabku seraya menahan rasa sakit karena melihat Alexa seperti ini.
“Marco seandainya waktu bisa di stop aku mau kita di sini terus.. Aku sayang kamu Marco. ” Alexa menutup matanya dan dan tertidur di pangkuanku, dan Ia mulai tersenyum lagi .. Ya, ini impianku selama ini bisa menikmati keindahan taman bersama Alexa yang sedang tidur di pangkuanku, tetapi aku rasa ini akan menjadi yang terakhir bagi Alexa dan juga diriku, dengan berat hati aku pun menarik nafas panjang dan mencoba menjelaskan semuanya pada Alexa.
“Alexa jaga dirimu baik-baik karena mulai dari besok aku nggak bisa deket sama kamu lagi, sudah ada Alvin, Alexa dia lebih pantas untukmu, kemarin mungkin Alvin sedang emosi jadi percayalah Alexa hanya dia yang bisa membuatmu bahagia.”
Alexa malah berdiri dari pangkuanku dan menangis lagi, tanpa berkata apa-apa malah sekarang ia berlari pergi, tapi aku sudah bulat dengan keputusanku mulai besok aku akan benar-benar menjauhi Alexa ..

Seminggu berlalu sejak kejadian di taman itu, niatku benar-benar terlaksan untuk menjauhi Alexa, tetapi saat itu Alexa menahanku dan bertanya mengapa aku mengambil keputusan begini, aku diam dan tak menjawab dan meninggalkannya begitu saja.

Suatu ketika, dalam perjalanku pulang ke rumah, aku merasakan seluruh tubuhku benar-benar lelah. Otakku bekerja tanpa henti untuk terus berpikir bagaimana cara agar aku tetap dapat menjauhi Alexa, Sesaat aku sedang berjalan di tepi jalan raya sore itu setelah pulang sekolah, aku mendengar suara Alexa berteriak dari kejauhan. Aku langsung dengan cepat berlari meskipun aku tidak melihat secara langsung tetapi aku yakin itu jeritan Alexa. Ya, aku melihat motor melaju dengan kencangnya dan menuju ke arah Alexa dengan langkah cepat aku mendorong badan Alexa ke tepi jalan. Aku terjatuh di tepi jalan setelah mendorong Alexa, dan aku baru menyadari motor tadi milik Alvin. Aku tak menyangka ternyata aku salah, Alvin benar-benar dendam pada Alexa, tetapi aku tidak memerdulikan itu yang aku pedulikan adalah Alexa. Dia terlihat sangat pucat, ketakutan, mengigil, astaga Alexa benar-benar ketakutan dia terlihat sangat berantakan, dengan nada yang sedikit keras Alexa, Dia membentakku dan berkata “Marco, kenapa kamu selametin aku ?! kenapa gak kamu biarin motor tadi celakai aku aja ! kenapa Marco?!” meskipun Alexa berteriak dan teriakannya sangatlah kencang tetapi aku yakin Alexa sangat ketakutan.
“Karena aku sayang kamu Lexa dan aku nggak mau kamu celaka !!”jawabku dengan kasar padanya.
“Marco kamu udah tinggalin aku Marco, Apa itu pembuktian sayang kamu ke aku ?!!” Aku langsung terkejut dangan apa yang Alexa bicarakan, ya dia memang benar seminggu ini aku telah mengabaikannya. Aku menyesal dan memeluknya dengan erat.
“Aku menyesal Alexa, maafin aku, aku nggak akan ninggalin kamu lagi Lexa.”
Jawabku dengan lembut pada Alexa.
Alexa hanya bisa menangis di dalam pelukanku.
“Jangan tinggalin aku lagi Marco jangan .. aku sayang kamu, dan bukan Alvin yang aku sayang tapi kamu yang aku sayang, Marco”
“Alexa aku juga mencintaimu dan aku janji aku nggak akan tinggalin kamu lagi .. saranghaeyo Alexa .”

Kamis, 01 Maret 2012

Fiksimini


Cinta di Jenjang penyesalan

     Aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Entah mengapa, rasa sayang yang semula hanya sebatas seorang sahabat dapat berubah menjadi menjadi cinta. Namun, aku lebih memilih pergi menghindari perasaanku. Sebenarnya, hatiku hanya untuknya. Hanya saja aku takut kehilangannya, sahabatku sendiri. Aku selalu mencoba untuk berhenti mencintainya dan menyelamatkan persahabatan kita.  
    Suatu ketika sebuah kesalahan besar terjadi, Aku telah menyakitinya dengan sengaja. Aku baru menyadari bahwa aku menyakiti orang yang paling aku cintai selama ini. Akhirnya, Ia pergi dengan sejuta keletihan dan kepingan hati yang hancur olehku.
     Selama ini, ia telah mengorbankan segalanya untukku .Aku menyesal, Namun apalah arti dari sebuah penyesalan itu baginya sekarang. Apa daya semuanya sudah terlambat, Ia telah menemukan kebahagiannya bersama orang lain sekarang. Kini, aku hanya dapat mencintainya dari jauh. Berharap suatu saat ia akan kembali dan memberiku kesempatan lagi untuk merasakan cintanya lagi.