Cinta itu
benar-benar menyakitkan, kadang cinta itu selalu bertolak belakang dengan apa
yang kita harapkan. Meskipun orang yang kita cintai serasa dekat dengan kita
tapi begitu sulitnya untuk kita dapat menjangkau cinta yang jelas-jelas sudah
ada di depan kita.
“Alexa !”
panggilku dengan nada sangat merindukannya.
“Marco, hallo ..
kangen banget ama kamu hehehe liburan lama banget sih.” Sahut Alexa dengan nada yang gembira tentunya.
Itulah yang
kusukai darinya ketika senyuman Alexa terpancar dari wajahnya yang manis itu.
“Lexa, kamu
ngapain di sini, aku cari-cari kamu dari tadi eh ternyata di sini ama Marco.
Eh, Hei Marco gimana kabarmu ?”
“Hei, Vin
baik-baik aja, kamu sendiri gimana ?” huh Alvin laki-laki yang menurutku sempurna.
Ya, dia memiliki apapun yang dia miliki, bagiku dialah orang yang paling
beruntung karena selain aku dia pun juga teman dekat Alexa.
“Aku jelas baik
banget lah Co, gimana engga coba, selama ad Alexa jelas aku bakal selalu
baik-baik aja .” Jelas Marco, aku bener2 engga ngerti sama yang Alvin katain
barusan, apa maksud dia ngomong gitu di depan Alexa secara langsung ?
“Eh maksudmu
apaan ?” tanyaku dengan nada yang jelas sangat penasaran.
“Lo, iyalah kalau
aku ketemu Alexa jelas hariku ngga akan..” Belum selesai Alvin berbicara
tiba-tiba Alexa memotong. “Iya, emm Alvin please jangan mulai.”Sahut Alexa
dengan nada yang sinis.
Istirahat, ya
itulah saat yang paling aku tunggu-tunggu. “Marco, hey, aku cari kamu
kemana-mana ternyata disini, temenin aku dong, lgi pengen curhat nii.”Pinta
Alexa dengan nada yang sedikit manja padaku, ya itulah Alexa, selalu manja
kalau ada mau.nya sama aku. Alexa mulai bercerita cerita dan ada satu hal yang
membuatku terkejut. “Ya ampun Marco, aku rasa aku mulai jatuh cinta deh ama
Alvin.”
Oh God, engga tau
kenapa tiba-tiba hatiku serasa hancur banget pas denger apa yang Alexa bilang
gitu. Alexa apa kamu engga sadar selama ini aku juga sayang sama kamu tapi
kenapa kamu malah jadi jatuh cinta sama dia, Alexa kenapa ? tanyaku dalam hati.
Entahlah, tiba2 air mata menetes dari pipiku, dan dengan cepat aku beranjak
dari tempatku duduk bersama Alexa, lalu meninggalkan Alexa tanpa berkata
apapun.
Sore hari, Hpku
berdering ternyata sms dari Alexa. Ya dia selalu tak pernah berhenti mengirim
sms ke hpku, aku rasa hatiku sedikit terhibur karna sms lucu2 darinya ini,
Alexa memang juga sempat bertanya mengapa tadi aku langsung pergi
meninggalkannya tetapi aku langsung berusaha mengalihkan perhatian ke topik
lain agar Alexa tidak curiga. “Setel lagu aja deh sambil buat –buat puisi siapa
tau, bisa masuk mading akhir tahun ini ketimbang nanggur sambil nangis gini.”ucapku
pada diri sendiri.
Grenade atau
apalah ahh lagu ini tambah buat aku kangen banget sama Alexa. Andai Alexa tau
tentang perasaan aku selama 2 tahun ini ke dia dan aku sangat berharap Alexa
bisa membaca puisi yang aku buat untukknya ini, meski aku rasa Alexa pasti akan
tetap tidak peduli tetap kucantumkan To:Alexa, berharap agar dia dapat
membacanya mungkin suatu saat nanti..
Keesokan harinya
aku benar-benar tidak sanggup pergi ke sekolah, bangun dari tidur tadi kepala
sudah terasa pusing, badan ku pun serasa lemas sekali , aku rasa ini juga efek
karena kemarin sudah seharian aku tidak makan. Ya inilah akibatnya karena aku
terlalu mementingkan Alexa ketimbang kesehatan badanku. Aku hanya bisa
meletakkan kepala ku di meja kaca di sekolahku ini. Aku hanya berharap Alexa
ada d sampingku d saat seperti ini, tapi itu hanya harapanku saja.
“Hai Marco !”
Alexa datang, ia menyapa ku dengan wajah yang tampak sangat senang, tetapi
sesaat setelah itu dia mulai tampak khawatir setelah melihat keadaanku sekarang
ini. “Marco kenapa kamu ? engga biasa2nya kamu gini. Astaga Marco mukamu pucet
banget, kamu engga makan seharian ya kemaren ? Aduh Marco kamu tuh kenapa sih.
Ayo, cepet ke UKS aku anterin kamu sekarang !”
Ternyata itu
bukan hanya harapanku. Alexa mengkhwatirkan keadaanku.
“Iya Alexa.”
Jawabku lemas. Saat aku mencoba berdiri dari kursi ku, Alexa menggenggam
tanganku erat, setelah itu tiba-tiba semuanya menjadi gelap entah apa yang
terjadi.
Saatku buka
mataku aku sudah berada di UKS bersama seorang yang duduk di samping ranjangku
dan menggenggam tanganku. Ya, Alexa yang duduk dan menggenggam tanganku,
bersama dengan air mata yang terlihat menetes di pipinya.
“Marco, kamu
kenapa kemaren engga makan seharian ? apa gara-gara aku Marco, maaf Marco aku
baru mengerti sekarang.” Alexa berbicara dengan nada halusnya yang selalu bisa
membuat hatiku terasa sangat tenang.
“Mengerti apa
Alexa ?” tanyaku dengan lemas.
“ Aku baru
mengerti kenapa kamu jadi kayak gini Marco, Aku sama sekali engga tau kalau
selama ini kamu..” Alexa diam dan tidak melanjutkan pembiacaraanya tapi aku
rasa aku tau apa yang Ia ingin bicarakan padaku. Tentang perasaanku padanya..
Tapi bagaimana Ia tau soal perasaanku ?
“Marco, aku liat
semua puisi-puisi mu buatku.. dan aku minta maaf Marco aku nggak sengaja liat
puisimu pas tadi nolongin kamu tas kamu juga ikutan jatuh dan puisimu ya juga
jatuh di lantai dan Marco aku sama sekali engga bermaksud untuk nyakitin
hatimu.”
“Alexa, apapun
demi kebahagiaanmu aku rela.” Senyum pahit jelas terpancar dari wajahku,
dan aku yakin Alexa pun menyadari bahwa aku merasakan sakit yang luar biasa
dalam hatiku.
Pintu kamar UKS
terbuka, dan sudah kuduga itu pasti Alvin. Secara kilat aku melepaskan
genggaman Alexa, Alexa pun segera menghapus air matanya dan mencoba
tersenyum di depan Alvin.
“Ya ampun Alexa
aku cari kemana-mana ternyata kamu disini sama si Marco, eh Ko napa kamu? Gara”
gak makan sehari aja udah pingsan dasar kamu Ko !” Entah sebuah ejekan sindiran
atau apa yang Alvin ucapkan barusan yang jelas kepala ku masih terasa pusing dan
badanku masih lemas, tetapi berbeda dengan Alexa dia langsung beranjak dari
kursinya dan melayangkan tamparan pada pipi Alvin, entah apa yang terlintas di pikiran
Alexa saat itu, apa dia tidak sadar bahwa yang telah ia tampar barusan adalah
orang yang ia cintai. Aku benar-benar kaget.“Alexa apa-apaan kamu ini, kenapa
tiba –tiba kamu tampar aku ?!”. triak Alvin sekuat tenanganya, Alvin terlihat jengkel terhadap kelakuan Alexa yang mendadak berubah itu. “Eh denger ya ALVIN
CRISTIAN ! kamu ini nggak sadar apa, temenmu lagi sakit gini, bukannya hibur
dia atau apa kamu malah nyindir dia dengan muka innocentmu itu !”
Alexa menjawab semua
perkataan Alvin dengan kasar, dan sangat kasar, bukankah seharusnya yang marah
itu aku kenapa malah jadi Alexa yang marah ?
Alvin merasa tidak terima karena di bentak seorang perempuan terutama seperti Alexa, dengan cepat
Alvin pun membalas tamparan Alexa dan aku yakin tamparan Alvin 200x lipat lebih
keras daripada tamparan Alexa tadi. Aku pun segera berdiri dari kasur UKS, dan
selanjutnya perkelahian hebat pun terjadi di UKS. Tanpa sadar tiba-tiba
kepalaku menjadi sangat pusing dan mulai terjatuh lagi, seingat ku Alexa
berteriak histeris dan mulai berkata-kata tidak jelas pada Alvin ..
Keesokan harinya
badanku terasa lebih enak ya mungkin karena semalam aku benar-benar tidur
dengan pulas. Semalam pun aku sempat berpikir dan mulai berkomitmen untuk menjauhi
Alexa karena aku pikir keputusanku ini baik bagi Alexa karena Alexa memang benar-benar
mencintai Alvin. Meskipun aku sedikit ragu akan keputusan ku ini, karena aku
sempat dilanda kebingungan sejak kejadian di UKS kemarin, tapi aku yakin
kemarin Alexa hanya mencoba membela ku sebagai sahabat nya saja dan sama sekali
nggak lebih dari itu..
2 jam, 3 jam, 4
jam, 5 jam, 6 jam ya ! KRING !!! bel pulang sekolah pun berbunyi, Aku mulai
mencari sosok Alexa tapi entah kemana Alexa aku pun tidak dapat menemukannya. Aku
mencarinya untuk membicarakan teantang keputusanku itu. Setelah beberapa menit
ku cari ya kutemukan Alexa dia sedang berada di kursi taman duduk sendiri, dan
yang ku tau dia menangis ..
Aku
menghampirinya, Alexa segera mengusap air matanya dan tersenyum pahit di
hadapanku, sebenarnya Aku sangat dengan benci senyum pahit Alexa !
Setelah keheningan melanda, Alexa mulai kembali menangis, perlahan ia menyandarkan
kepalanya di pundakku.
“Marco, aku bener-bener
nyesel soal Alvin kemarin yang memukulmu..” tutur Alexa lembut terhadapku
“kenapa kamu yang
nangis Lexa ? Aku ngga apa apa Lexa, jangan nangis lagi.” Jawabku seraya menahan rasa sakit karena melihat Alexa seperti ini.
“Marco seandainya
waktu bisa di stop aku mau kita di sini terus.. Aku sayang kamu Marco. ” Alexa
menutup matanya dan dan tertidur di pangkuanku, dan Ia mulai tersenyum lagi .. Ya,
ini impianku selama ini bisa menikmati keindahan taman bersama Alexa yang
sedang tidur di pangkuanku, tetapi aku rasa ini akan menjadi yang terakhir bagi
Alexa dan juga diriku, dengan berat hati aku pun menarik nafas panjang dan
mencoba menjelaskan semuanya pada Alexa.
“Alexa jaga
dirimu baik-baik karena mulai dari besok aku nggak bisa deket sama kamu lagi,
sudah ada Alvin, Alexa dia lebih pantas untukmu, kemarin mungkin Alvin sedang emosi
jadi percayalah Alexa hanya dia yang bisa membuatmu bahagia.”
Alexa malah
berdiri dari pangkuanku dan menangis lagi, tanpa berkata apa-apa malah sekarang
ia berlari pergi, tapi aku sudah bulat dengan keputusanku mulai besok aku akan
benar-benar menjauhi Alexa ..
Seminggu berlalu sejak kejadian di taman itu, niatku benar-benar terlaksan untuk menjauhi Alexa, tetapi saat itu Alexa
menahanku dan bertanya mengapa aku mengambil keputusan begini, aku diam dan tak
menjawab dan meninggalkannya begitu saja.
Suatu ketika, dalam perjalanku pulang ke rumah, aku merasakan seluruh tubuhku benar-benar lelah. Otakku bekerja tanpa henti untuk terus berpikir bagaimana cara
agar aku tetap dapat menjauhi Alexa, Sesaat aku sedang berjalan di tepi jalan
raya sore itu setelah pulang sekolah, aku mendengar suara Alexa berteriak dari
kejauhan. Aku langsung dengan cepat berlari meskipun aku tidak melihat secara
langsung tetapi aku yakin itu jeritan Alexa. Ya, aku melihat motor melaju
dengan kencangnya dan menuju ke arah Alexa dengan langkah cepat aku mendorong
badan Alexa ke tepi jalan. Aku terjatuh di tepi jalan setelah mendorong Alexa,
dan aku baru menyadari motor tadi milik Alvin. Aku tak menyangka ternyata aku
salah, Alvin benar-benar dendam pada Alexa, tetapi aku tidak memerdulikan itu
yang aku pedulikan adalah Alexa. Dia terlihat sangat pucat, ketakutan, mengigil,
astaga Alexa benar-benar ketakutan dia terlihat sangat berantakan, dengan nada
yang sedikit keras Alexa, Dia membentakku dan berkata “Marco, kenapa kamu
selametin aku ?! kenapa gak kamu biarin motor tadi celakai aku aja ! kenapa
Marco?!” meskipun Alexa berteriak dan teriakannya sangatlah kencang tetapi aku
yakin Alexa sangat ketakutan.
“Karena aku
sayang kamu Lexa dan aku nggak mau kamu celaka !!”jawabku dengan kasar padanya.
“Marco kamu udah
tinggalin aku Marco, Apa itu pembuktian sayang kamu ke aku ?!!” Aku langsung
terkejut dangan apa yang Alexa bicarakan, ya dia memang benar seminggu ini aku
telah mengabaikannya. Aku menyesal dan memeluknya dengan erat.
“Aku menyesal
Alexa, maafin aku, aku nggak akan ninggalin kamu lagi Lexa.”
Jawabku dengan lembut
pada Alexa.
Alexa hanya bisa
menangis di dalam pelukanku.
“Jangan tinggalin
aku lagi Marco jangan .. aku sayang kamu, dan bukan Alvin yang aku sayang tapi
kamu yang aku sayang, Marco”
“Alexa aku juga
mencintaimu dan aku janji aku nggak akan tinggalin kamu lagi .. saranghaeyo
Alexa .”